Showing posts with label Literature. Show all posts
Showing posts with label Literature. Show all posts

BIOGRAFI SIR WALTER SCOTTBIOGRAFI SIR WALTER SCOTT

By On August 5, 2011


Biografi Sir Walter Scott
Oleh: Wisnu Hartanto

Biography Sir Walter Scott

Nama: Walter
Nama keluarga(marga): Scott  ~ Biografi Sir Walter Scott ~
TTL: 15 Agustus 1771
Meninggal: 21 September 1832
Kebangsaan: Skotlandia
Keluarga:
Ayah: Walter Scott
Ibu: Anne Scott
Istri: Charlotte Mary Scott ( dari 24 Desember 1797)

• Saudara Sir Walter Scott Biografi
saudara: Daniel Scott
saudara: Yohanes Scott
saudara: Robert Scott
saudara: Thomas Scott
saudari: Anne Scott

Anak:
putra: Charles Scott
putra: Walter Scott
putri: Charlotte Sophia Lockhart
putri: Anne Scott

Pendidikan Sir Walter Scott dalam Biografi nya
Sekolah menengah di George'S square, Edinburgh: Oktober 1778
Sekolah di Kelso.

Politik: Tory
Penghargaan gelar kehormatan:
Honorary degree, Cambridge: 1820
          Honorary degree, Oxford: 1820
Periode kesusasteraan: Romance
Pekerjaan: Sastrawan, Sheriff dan Penulis

Macapat Java Culture IndonesiaMacapat Java Culture Indonesia

By On July 21, 2011

Tembang Macapat the Old java Culture

Talk About pangkur Macapat java Culture
By: Wisnu Hartanto

Let's know about Java (Jawa) Culture - Indonesia especially about Macapat,
Old Java Culture has full of philosophy story about life. It has implied in their dances, arts and songs. Hereby, I'll explain about philosophy life of java through their lyric on their's old song. The famous song in old java culture is "Tembang Macapat".

"Macapat" is come from Java's Acronym "Mocone Papat" (To read is Four - Four), Tembang = Song. "Tembang Macapat" divided into several title of song which each title will implied different meaning of java's philosophy. This songs has created by turbulence of history and culture in the land of Java.
Songs of Tembang Macapat from Java Culture:
Objektivitas Vs Subjektivisme

Objektivitas Vs SubjektivismeObjektivitas Vs Subjektivisme

By On July 10, 2011

Objektivitas Versus Subjektivisme

Subjektivitas & Objecktivitas
Belajar Falsafah dan memahami Objektivitas dan Subjektivitas

Pandangan Objektivitas dan Subjektivitas

Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa interpretasi Heisenberg terhadap fisika kuantum sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan filsafatnya. Bahkan ketika ia masih menjadi mahasiswa, ia adalah seorang idealis yang bersemangat, yang mengakui bahwa ia sangat terkesan dengan Timaeus, karya Plato (di mana idealisme Plato tersaji dengan cara yang paling tidak dapat dimengerti orang), sambil bergabung dalam jajaran Freikorps, pasukan paramiliter reaksioner, yang senang menculik dan membunuh para aktivis serikat buruh, terutama aktif di tahun 1919. Kemudian ia menyatakan bahwa ia "jauh lebih tertarik terhadap ide-ide filsafat yang mendasar daripada hal-hal lainnya," dan bahwa perlulah "untuk keluar dari ide tentang proses objektif dalam ruang dan waktu." Dengan kata lain, interpretasi filsafati Heisenberg atas fisika kuantum sangat jauh dari sekedar hasil sebuah percobaan ilmiah. Jelas bahwa interpretasinya terkait erat dengan filsafat idealis, yang dengan sadar diterapkannya dalam fisika, dan yang menentukan seluruh cara pandangnya terhadap dunia.

Memahami konsep Objektivitas dan Subjektivitas

Filsafat semacam itu bukan saja bertentangan dengan ilmu pengetahuan, tapi juga dengan seluruh pengalaman kesejarahan manusia. Bukan saja ia tidak mengandung hakikat yang ilmiah, tapi juga sama sekali tidak ada gunanya dalam praktek. Para ilmuwan yang, pada umumnya, lebih suka tidak menyentuh spekulasi filsafat, mengangguk dengan sopan pada Heisenberg, dan terus saja meneliti hukum-hukum alam, menganggap sewajarnya bahwa alam bukan saja ada ada, tapi juga berjalan sesuai dengan hukum-hukum tertentu, termasuk hukum sebab-akibat, dan dengan usaha sedikit keras, dapat dipahami dengan sempurna, bahkan dapat diramalkan oleh manusia. Konsekuensi yang reaksioner dari idealisme subjektif ditunjukkan oleh perkembangan pribadi Heisenberg sendiri. Ia membenarkan keterlibatannya dengan Nazi dengan alasan bahwa "Tidak ada pedoman umum yang dapat kita gugu. Kita harus memutuskan bagi diri kita sendiri, dan tidak ada cara untuk meramalkan apakah yang kita buat ini adalah benar atau salah."

Theory of Literature IITheory of Literature II

By On

Sekilas tentang ragam Teori Sastra / Theory of Literature 2

Oleh: wisnu hartanto

Theory Of Literature

TEORI SASTRAFORMALISME (dirintis tahun 1914)

Formalisme adalah sebuah mashab teori sastra yang lahir di Rusia dan lebih berorientasi pada bentuk (Form) dengan titik berat kajian terhadap narasi atau cerita. Mashab ini muncul sebagai reaksi dari pendekatan postivistik yaitu fakta yang diamati oleh auguste comte bahwa ilmu pengetahuan itu harus berdasarkan fakta.

Maka positifisme dapat diartikan bahwa apapun instrumen itu, tidak punya nilai dan tidak perlu penilaian. Suatu alat dan cara hanya akan bernilai ketika dikaitkan dengan pelaku dan objektifnya jadi akan lebih terlihat pada segi realistis sebuah karya sastra yaitu bentuk (Form) itu sendiri.

Di rusia terdapat organisasi yang mendukung adanya mashab teori sastra Formalisme aguste comte ini yaitu The Moskow Linguistic Circle yaitu organisasi yeng beranggotakan para ahli liguistik seperti Victor Sklovskij.

Dalam pemikirannya Victor Shklovsky menyatakan bahwa Sekarang seni kuno sudah mati, sementara seni baru belum lahir. Hal-hal lain juga telah mati - kita telah kehilangan perasaan terhadap dunia. Hanya kreasi bentuk-bentuk artistik baru yang dapat memulihkan kesadaran manusia terhadap dunia, membangkitkan semangat dan membunuh pesimisme. (DW Fokema et al, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998, 13).

Folk story of Bali straitFolk story of Bali strait

By On July 2, 2011

Manik Angkeran

(folk story of Bali strait)


Folk story of Bali strait
by: wisnu hartanto

This is the folk story of Bali strait which a long time ago on the Daha Kingdom, Lived a Brahmana named Sidi Mantra. He was very famous for his supernatural power. From Sanghyang Widya or Batara Guru, he had a beautiful wife and prosperity. After many years later, they had a son named Manik Angkeran. 
 
Manik Angkeran was a strong and a smart young man but he had a bad habit. He loved to gamble and always spent his money. Then his parents soon became poor. Instead he kept on begging to his parents to give him a lot of money to pay his debts.

Sidi Mantra did not have the heart to see his son begging. Then he fasted and prayed to gods, suddenly he heard a voice that told him to meet a dragon on Agung mountain. The dragon named Naga Besuki. Sidi Mantra then went to Agung Mountain. There lived a mighty dragon with his great supernatural power. He could provide jewelries to those who could ring the bell and know the prayers to call the dragon. Sidi Mantra had the bell and he also knew the prayers.

Folk story of Bali strait : About Manik Angkeran

En hiverEn hiver

By On May 19, 2010


En hiver

Émile Verhaeren

Le sol trempé se gerce aux froidures premières,
La neige blanche essaime au loin ses duvets blancs,
Et met, au bord des toits et des chaumes branlants,
Des coussinets de laine irisés de lumières.

Passent dans les champs nus les plaintes coutumières,
A travers le désert des silences dolents,
Où de grands corbeaux lourds abattent leurs vols lents
Et s'en viennent de faim rôder près des chaumières.

Mais depuis que le ciel de gris s'était couvert,
Dans la ferme riait une gaieté d'hiver,
On s'assemblait en rond autour du foyer rouge,

Et l'amour s'éveillait, le soir, de gars à gouge,
Au bouillonnement gras et siffleur, du brassin
Qui grouillait, comme un ventre, en son chaudron d'airain.

Penjelasan
Artinya :

Kebasahan tanah merekahkan udara yang sangat dingin terlebih dahulu
Salju putih di kejauhan tampak seperti kawanan bulu-bulu putih
Dan pasir di tepi pantai,dan jerani-jerami yang goyah
Bantal-bantal kecil dari bulu domba berwarna pelangi yang bercahaya

Melewati tanah lapang yang merintih
Melalui padang pasir yang terdiam merana
Dimana burung-burung gagak besar menjatuhkan penglihatannya perlahan-lahan
Dan kelaparan datang berkeliaran di dekat gubuk-gubuk

Tapi sejak saat itu langit menjadi mendung berwarna abu-abu
Kegembiraan pertanian di musim dingin
Kita bertemu dalam sebuah lingkaran di sekeliling perapian merah

Dan cinta membangunkan di malam hari,laki-laki
Di perebusan lemak dan orang-orang yang bersiul
Yang padat,seperti perut,di kancah dari perunggu

( Puisi ini berisi tentang suasana di musim dingin,tanah yang basah disertai dengan udara yang dingin terlebih dahulu.Salju putih di kejauhan tampak seperti kumpulan-kumpulan bulu-bulu putih karena.Burung-burung yang kembali dari pantai karena kelaparan datang mendekati gubuk-gubuk.Langit tampak mendung keabu-abuan,sekerumun orang berkumpul di perapian.Dan cinta yang membangunkan/membangkitkan suasana pada malam hari itu seperti kancah dari perunggu).



Link Poem:
poesie.webnet.fr/lesgrandsclassiques/poemes/mile_verhaeren/index.html

On The Late Massacre in PiedmontOn The Late Massacre in Piedmont

By On August 3, 2009


By: John Milton

“On The Late Massacre in Piedmont” (1655)

“Avenge, O Lord, Thy slaughtered saints, whose bones lie scattered on the Alpine mountains cold;
E’en they who kept Thy truth so pure of old,
When all our fathers worshipped stocks and stones,
Forget not: in Thy book record their groans
Who were Thy sheep, and in their ancient fold

Slain by bloody Piemontes that roll’d
Mother with infant down the rocks. Their moans
The vales redoubled to the hills, and they
To heaven. Their martyred blood and ashes sow
O’er all the Italian fields, where still doth sway
The triple tyrant; that from these may grow
A hundred-fold, who, having learnt Thy way
Early may flee the Babylonian woe.”



Milton's sonnet "On the Late Massacre in Piedmont" (1655)

Peter Valdes (also known as Waldo) came into prominence in the last half of the 12th Century, as the leader of a religious group that came to be known as the Waldensians (or Waldenses). He was a rich merchant in Lyons, France, who around 1170 renounced his wealth in favor of a life of poverty, simplicity, and preaching. In this he was similar to a number of other medieval figures, like Saint Francis of Assisi (1181?-1226), who renounced a worldly life and ended up forming small communities dedicated to worship and service. Such persons and their followers often aroused the suspicion of church authorities. Sometimes, like the Franciscans, they were able to reach an accomodation. Waldo's lack of theological training, and his use of a local dialect Bible (instead of Saint Jerome's Vulgate Latin version, recognized by the Church), were soon complained of. The Waldensians sought papal approval from the Third Lateran Council (1179), but the outcome was that Waldo was forbidden to preach and, in 1184, declared a heretic and excommunicated. With time and persecution, the Waldensians departed further from Roman teaching. The rejected the authority of the pope, denied the existence of purgagory and the efficacy of prayers for the dead, criticized the veneration of saints and the adoration of the crucifix, and dispensed with certain of the seven sacraments. They also aroused alarum among secular authorities for refusing to swear oathes in court.

Waldensian communities sprang up in many places in Europe -- Spain, northern France, Flanders, Germany, Poland, southern Italy, Hungary -- but severe persecution (extending to active torture and execution) eventually reduced them to remote niches in the Cottian Alps of Italy and France. The partisans of the 16th-century Reformation recognized them as early defenders of their notion of true religion, and a series of conferences around the middle of the century resulted in their becoming in effect a branch of the Genevan (i.e., Calvinist) Church. This did not, of course, make them any less worthy as a target of Catholic repression. In the middle of the 17th Century, the Duke of Savoy unleashed a campaign to suppress the communities living in the Piedmont region of his domains. Milton himself may have had a hand in drafting the appeals sent by Oliver Cromwell to the Duke of Savoy urging him to end the persecution.

Milton's fmous poem is a response to one particularly flagrant atrocity that resulted during this larger crusade to re-establish the true faith.
A VALEDICTION FORBIDDING MOURNING

A VALEDICTION FORBIDDING MOURNINGA VALEDICTION FORBIDDING MOURNING

By On November 15, 2008

John Donne: 1572-1631The English Metaphysical Poets and a churchman from London Graduated from Oxford and Cambridge University.
One of his Poem:

VALEDICTION FORBIDDING MOURNING.
by John Donne

AS virtuous men pass mildly away,
And whisper to their souls to go,
Whilst some of their sad friends do say,
“Now his breath goes,” and some say, “No.”

So let us melt, and make no noise, 5
No tear-floods, nor sigh-tempests move ;
‘Twere profanation of our joys
To tell the laity our love.

Moving of th’ earth brings harms and fears ;
Men reckon what it did, and meant ; 10
But trepidation of the spheres,
Though greater far, is innocent.

Dull sublunary lovers’ love
—Whose soul is sense—cannot admit
Of absence, ’cause it doth remove 15
The thing which elemented it.

But we by a love so much refined,
That ourselves know not what it is,
Inter-assurèd of the mind,
Care less, eyes, lips and hands to miss. 20

Our two souls therefore, which are one,
Though I must go, endure not yet
A breach, but an expansion,
Like gold to aery thinness beat.

If they be two, they are two so 25
As stiff twin compasses are two ;
Thy soul, the fix’d foot, makes no show
To move, but doth, if th’ other do.

And though it in the centre sit,
Yet, when the other far doth roam, 30
It leans, and hearkens after it,
And grows erect, as that comes home.

Such wilt thou be to me, who must,
Like th’ other foot, obliquely run ;
Thy firmness makes my circle just, 35
And makes me end where I begun.

karena aku cintakarena aku cinta

By On September 13, 2008


ketika kabut masih berarakan putih
daun-daun basah meneteskan air
aku ingin kembali dalam sepimu dan dinginmu

ketika semua orang masih bicara tentang keadaan
aku berbicara padamu tentang keyakinan
dan aku terima kamu dalam keberadaanmu
seperti engkau terima aku, aku mencintai kamu

dalam diri yang sepi dan dingin
langkahmu adalah nyanyian keabadian
tentang melawan hatimu adalah tanda tanya
segala cintamu dan cintaku adalah kebisuan semata

dan senja ini
ketika mulai gelap dan kebisuan menyelimuti jalan sunyi
kau datang kembali dan berbicara padaku tentang arti hidup ini
selama ini adalah menunggu mati

tanpa tahu besok masih bisa melihat matahari
tanpa tahu masih bisa menghirup udara pagi
tanpa harus mundur dan harus menghadapi

dengan menerima……..
aku kembali berdiri memanggul tas –
tas yang kosong dan lampu kota yang masih menyala

aku terima ini semua dalam batas – batas langkahmu
dalam batas – batas hatimu aku cinta padamu
karena aku cinta.

Jacques DerridaJacques Derrida

By On August 26, 2007

Tokoh Post-strukturalisme

Dikarenakan minimya sumber untuk mengulas tokoh-tokoh dari post strukturalisme, maka tidaklah menjadi soal kalau dalam paper ini penulis hanya akan menyampaikan salah satu tokoh dari post-strukturalisme, yaitu Jacques Derrida.
a. Riwayat Hidup dan Karya Jacques Derrida
Jacques Derrida lahir di al-Jazair pada tanggal 15 Juli 1930,dan ia adalah seorang Filusuf Prancis keturunan Yahudi. Pada tahun 1949 Ia pindah ke Prancis dan menetap di Prancis hingga akhir hayatnya. Beliau kuliah dan belajar di Prancis hingga akhirnya dia menjadi maitre-assistant, dosen tetap di bidang Filsafat. Selain dosen tetap di bidang filsafat, beliau juga dalam beberapa waktu sebagai dosen tamu di Yale University, Amerika Serikat. Dan pada masa mudanya Derrida pernah menjadi anggota Partai Komunis Prancis.

Pada tahun 1962, Derrida menerbitkan terjemahan karangan Husserl Asal-Usul Ilmu Ukur Introduction au probleme du signe dans la phenomenology de Husserl (suara dan fenomena. Pengantar pada masalah tanda dalam Fenomenologi Husserl) memberi komentar panjang lebar atas uraian Husserl tentang tanda dalam buku Penelitian-Penelitian Logika, Bab I, pasal 1 s/d 9. bersama suatu pendahuluan. Kemudian tahun 1967 Derrida menerbitkan tiga buku sekaligus, yaitu L’écriture et la différance (tulisan dan perbedaan), De la grammatologie (tentang gramatologi), dan La voix et le phenomène. Selain itu

Literature Theory

Literature TheoryLiterature Theory

By On April 23, 2007

Teori Sastra

Post-Strukturalisme

Setiap tesis dipastikan akan ada anti-tesis sebagai lawan atau pengembangannya, begitu pula dengan sebuah pemikiran yang muncul pada masanya maka akan ada pemikiran baru baik itu yang berlawanan dengan pemikiran sebelumnya ataupun pengembangan dari pemikiran tersebut. Post-strukturalisme adalah sebuah pikiran yang muncul akibat ketidak puasan atau ketidak setujuan pada pemikiran sebelumnya, yaitu strukturalisme.

Didalam Post-Strukturalisme terdapat perspektif reader response dan feminisme serta perspektif lainnya. Setiap perspektif akan saya bahas dalam paper ini,

Reader Response

Reader response adalah baaimana pembaca memberi makna terhadap karya sastra sehingga dapat memberi tangapan atau reaksi terhadap karya sastra yang telah dibacanya.

Hal ini dipasikan akan teradi timbal balik dengan si pembaca yaitu memberikan dampak atau result yang berupa:

a) Kreatif: Menciptakan karya baru (sebuah cerita yang telah ia baca dapat memberi inspirasi untuk berkarya secara nyata seperti membuat film dari cerita tadi)

b) Akif : bagaimana pembaca melakukan konkretisasi (berpapemberian komentar atau tanggapan)

c) Pasif: Bagaimana pembaca memahami karya sastra (anya sebatas memahami isi da unkin juga pesan yang disampaikan)

Di dalam proses timbal balik inipun akan terjadi proses penolakan terhadap karya sastra yang disebut dengan demitifikasi (penentangan mitos), Penolakan ii dibedakan menjadi dua:

a) Aktif: Yang akan memberi komentar penolakan atau kritikan terhdap katya ini.

b) kreatif: Yan akan membuat cerita tandingan yang terinspirasi dari karya yang telah dibacnya.

Dalam proses timbal balik inipun terdapat orientasi dari redaer responsenya sendiri atau pusat tanggapan yaitu:

Pragmatik orientasi adalah Teks mempengaruhi pembaca atau teks sebagai pusat dan al ini dminan erjdi pada aadpertengahan.Teri ini ditelii dan dikembangkan oleh Hanz Robert jausz, medievisdari niversitas Konstanz sehingga lahirlah Rezeptionaes thethic ataudikeal sebagai Estetika Resepsi yaitu memeninkan pembaca atau pembaca sebagai pusat.

agnes inglisagnes inglis

By On June 6, 2005

Pustakawan Anarkis

Sumber: beritakomunitas.googlepages[dot]com/agnesinglis

Translate dari: www.spunk[dot]org/agnes.html

Agnes Inglis (1870–1952) tak pernah berencana akan berkarir sebagai pustakawan. Pada umur 52 tahun di tahun 1924, dan setelah kerja kerasnya dalam kasus-kasus imigran radikal yang menghadapi pengejaran dan deportasi setelah Perang Dunia I, Inglis mengunjungi perpustakaan Universitas Michigan untuk mencari keterangan mengenai koleksi buku, jurnal, dokumen, kliping, dan berkas catatatan yang didonasikan kawannya Joseph Labadie di tahun 1911. “Jo” Labadie(1) merupakan seorang pemimpin buruh, reformis sosial dan anarkis individualis yang yang telah menghimpun sedemikian banyak bahan-bahan yang mendokumentasikan berbagai peristiwa dan pergerakan dimana ia terlah berpartisipasi selama lebih dari empat puluh tahun karirnya. Inglis menemukan koleksi asli Labadie dalam kondisi yang sama ketika mereka didonasikan: “dalam keadaan baik …meski belum dijilid.” (Inglis 1924). Dia memutuskan menyediakan sedikit waktu secara sukarela dalam perpustakaan untuk membongkar dan mensortir bahan-bahan tersebut. Waktu yang pendek itu berubah menjadi pelayanan tanpa gaji dan termasyur selama 28 tahun. Selama masa itu dia tak hanya menata sejumlah besar koleksi, namun meningkatkannya sehingga dua puluh kali lipat dari jumlah awal. Dia memolesnya menjadi bahan yang mudah dan dapat dinikmati hingga sekarang. Koleksi itu bahkan dihargai di antara perpustakaan lain yang mendokumentasikan sejarah dan filosofi anarkisme dan gerakan sosial dan politik yang lain. Kehidupan Inglis sebagai seorang anarkis dan pustakawan memberi contoh yang sangat baik mengenai persinggungan antara cita-cita politik dan kepustakwanan.
free counters