By
On May 5, 2006

Perempuan, media dan seksualitas
Sumber: Ucox Unpad(dalam Jurnal Facebook.com)
Perempuan “ demikian ujar Janice Winship dalam bukunya Sexuality for sale (1980)., tidak hanya melihat diri mereka sebagaimana pria melihat mereka, tetapi didorong untuk menikmati seksualitas mereka melalu mata pria. Seolah-olah wanita tidak pernah untuk menentukan identitas siapa diri mereka dan bagaimana mereka semestinya. Bentuk tubuh, rambut , pakaian , kosmetik yang dipilih , jarang digunakan untuk diri mereka sendiri, pasti selalu “ dipersembahkan untuk “. Baik itu terhadap pandangan pria ataupun tuntutan budaya dimana mereka tinggal. Lantas , apakah memang seharusnya seperti itu ?
Ditilik dari persoalan gender, sepanjang sejarah, perempuan selalu dianggap sebagai subordinasi dari laki-laki. Perempuan ibarat masyarakat kelas dua dalam satu sistem strata sosial. Konsekuensianya, maka laki-laki menjadi berkuasa atas kehidupan perempuan. Mulai dari pembagian kerja, peran dalam rumah tangga sampai urusan bisnis yang cenderung menjadikan perempuan sebagai bisnis yang bernilai untuk diperdagangkan. Kita ambil contoh, ada beberapa iklan yang menggunakan perempuan sebagai model untuk menampilan citra yang sesungguhnya tentang produk tersebut, seperti iklan minuman beralkohol, kosmetik dan rokok. Padahal jika dicermati dengan logika, apakah ketika seseorang mengkonsumsi minuman atau rokok, identik dengan pria jantan yang dikerubungi perempuan ? Tentu saja tidak. Dalam hal ini kita bisa melihat campuran antara ideologi patriarki , media dan tujuan kapital untuk merancang defenisi cantik untuk perempuan. Hegemoni dan konstruksi Seorang pemikir kritis abad ini, Antonio Gramsci banyak membicarakan tentang hegemoni yang membentuk kesadaran kita akan sesuatu. Hegemoni menurut Gramsci ditandai adanya dominasi dari suatu kelompok yang bertujuan membuat kelompok yang ada dibawahnya menerima pandangan-pandangan atau pemikiran dari kelompok elit tersebut.

