Literature Theory

Teori Sastra

Post-Strukturalisme

Setiap tesis dipastikan akan ada anti-tesis sebagai lawan atau pengembangannya, begitu pula dengan sebuah pemikiran yang muncul pada masanya maka akan ada pemikiran baru baik itu yang berlawanan dengan pemikiran sebelumnya ataupun pengembangan dari pemikiran tersebut. Post-strukturalisme adalah sebuah pikiran yang muncul akibat ketidak puasan atau ketidak setujuan pada pemikiran sebelumnya, yaitu strukturalisme.

Didalam Post-Strukturalisme terdapat perspektif reader response dan feminisme serta perspektif lainnya. Setiap perspektif akan saya bahas dalam paper ini,

Reader Response

Reader response adalah baaimana pembaca memberi makna terhadap karya sastra sehingga dapat memberi tangapan atau reaksi terhadap karya sastra yang telah dibacanya.

Hal ini dipasikan akan teradi timbal balik dengan si pembaca yaitu memberikan dampak atau result yang berupa:

a) Kreatif: Menciptakan karya baru (sebuah cerita yang telah ia baca dapat memberi inspirasi untuk berkarya secara nyata seperti membuat film dari cerita tadi)

b) Akif : bagaimana pembaca melakukan konkretisasi (berpapemberian komentar atau tanggapan)

c) Pasif: Bagaimana pembaca memahami karya sastra (anya sebatas memahami isi da unkin juga pesan yang disampaikan)

Di dalam proses timbal balik inipun akan terjadi proses penolakan terhadap karya sastra yang disebut dengan demitifikasi (penentangan mitos), Penolakan ii dibedakan menjadi dua:

a) Aktif: Yang akan memberi komentar penolakan atau kritikan terhdap katya ini.

b) kreatif: Yan akan membuat cerita tandingan yang terinspirasi dari karya yang telah dibacnya.

Dalam proses timbal balik inipun terdapat orientasi dari redaer responsenya sendiri atau pusat tanggapan yaitu:

Pragmatik orientasi adalah Teks mempengaruhi pembaca atau teks sebagai pusat dan al ini dminan erjdi pada aadpertengahan.Teri ini ditelii dan dikembangkan oleh Hanz Robert jausz, medievisdari niversitas Konstanz sehingga lahirlah Rezeptionaes thethic ataudikeal sebagai Estetika Resepsi yaitu memeninkan pembaca atau pembaca sebagai pusat.


Teori ini dibagi dua yaitu:

a) PembacaObjektif:

Ketika seorang peneliti membuat analisisdari teks ke teks lannya dan pembaca diposisikan diluar teks tesebut. Sehinga kita hanya perlu membandingkan dengan teks lainnya dan mencari efek yang ditimbulkannya.

b) Pembaca Sujekif:

Peneliti sama dengan pembaca yang menginterprestasikan sebuah teks (peneliti terlibat langsung dalam penasran karya sastra)

Permus dan Pengembang Teori ini:

a) Robert Jausz: baaimana suatu karya diterma pada suatu asa tertentu berdasakan horizon of expectation, karenaanya dengan partisipai akif pebacanya suatu karya sastra dapat idp.karya sastradilihatdalam hbngannya dengan karya lan dan pembaca memilki bekal yang menentukan extual sraegy.

b) Wolgang Iser: Karya sastra akan menimbulkan kesan pada pembaca dan peneliti sama dengn pembaca (subjektif).
Feminisme

Usaha yang berupa gerakan perempuan dalam menggugat sistem yang mendiskriminasikan perpuan, Tokonya yaitu: etty Friedan (The Feminine Mystique) meletakkan dasar feminisme.

Penulis masa ini:

- Kate Millet: Didalam karya sastra, Perempuan itu diangap sebagai the other.

Simonde de Beauvoir: “The Second Sex”
Luce Irigaray
Julie
Helene Cixous (L’ecture Feminine)
kate Millet

Dalam Feminsime muncul beberapa perspekif, yaitu:

a) Femnisme Liberal:Antara perempuan dan laki-laki memilki persamaan hak antara intelekualitas dan rasionalitas.

b) Feminisme Radikal: enolak tatanan simbolik yang didominas demi laki-laki mengukuhkan perbedaan laki-laki dan perempuan. Golonga ini enyoroti konsep patriarki da seksualitas.

-Patriarki : mendefinisikan perempuan seagai pelayan lak-aki dan melahirkan, mengasuh anak adalah satu kecederungan yang dibetuk atau dikonstruksi oleh kondisi sosial masyarakat dan agama.Konsep ini erlihat jelas pada eksploitasi tubuh perempuan seperti pada dnia periklanan dan edia massa.

Adanya patriarki dalam karya sastra yang menyimbolkan keseksan seorang wanita dan al ini uga dinikmai leh kaum wanita idak anya laki-lakisaja dan hal inilah yang disebut patriarki dalam karya sastra.

Kemudian dari pihak wanita sendiri muncul sekularitasyaitu engkesampingkan agama karena daam agama terapat dskrminasi atara wanita dan laki-laki. Sehingga kesimpulanya bahwa patriarki itu dibentuk oleh kondisi sosial bukan karena kodrat/kemauan seseorang.
Konsep Dasar Feminisme:

a) Gender: pembedaan yang bersifat sosial yang dikenakan atasa perbedaa biologis dan enis kelamin

b) Esensialisme dan Konstruksi sosial : Perbedaa bilogis idak sertamerta meenukan sifat, sikap, perilaku (wanita yang lemah lembut itu bukan secara biologis, hal itu karena dibentuk oleh norma masyarakat dan budaya serta oleh dididikan orang tuanya)

Esensialisme mengangap ada sfat yang meekat da perepuan atau laki-laki secara umum yaitu:

kodrat: Sesuatu yang sudah dimilki sejak lahir
Takdir: sesuau kebiasaa bisa beruba karena suatu kejadian (laki-laki yang engasuh anaknya karena ditinggal pergi isterinya)
Etika sesuatu yan dibentuk oleh norma masyarakat, (dimana wania itu harus mengurus anak dan laki-laki yan mencari uang)

c) Patriarki dan Phalloosetrisme/Androsentrisme

Phaloosentrisme adalah sema al ersmber pada laki-laki sehingga menggap pengalaman perempuan sea sesuatu yang tidak berarti untuk diperhitungkan.Kecenderunan phallogosentrisme merupakan norma yang endasari patriarki.

Pendekatan Feminsime dala sebua karya sastra:

Jenis kelamin pengarang
Jenis kelamin narator
Karakter tokoh wanita: endukung atau menolak konsep patriarki
Tokoh wanita sebagi tokoh utama atau tidak
Sikap tokoh wanita terhadap tokoh laki-laki
Sikap tokoh laki-laki terdap tokoh perempuan.

Dekonstruksi

Adanya hal yang arbitrer (sesuatu yang sewenang-wenang) dalam pemberian nama dan erdapat pula sesuau ang berlawanan tetapi melengkapi (oposisi binner), Contoh: Panjang >< Pendek

enurut saussure (tokoh Strukturalisme): bahwa perluadanya penanda (Signifier) dan pertanda (Signified) sedangkan menurut Derrida (tokoh Dekonstruksi) : bahwa antara penanda da pertanda tidak ada hubungannya secara langsung.Jadi walapaun ada beberpa al yang sama anatar pemikiran Saussure dengan derrida an teapi pemikiran derrida lebih jauh lagi pembahasannya dari saussure.

Ciri dari Derrida melampaui pemikiran Saussure adalah pemikiran Derrida yang percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Dan Derrida memandang bahwa Saussure tidak bisa melepaskan dirinya dari pandangan logosentris, sejak Saussure lebih mengunggulkan bahasa di atas tulisan.

Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Selain itu Derrida juga menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. Dalam tulisan, penanda selalu produktif, mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified.

Kesimpulan:

Post-strukturalisme adalah sebuah pikiran yang muncul akibat ketidak puasan atau ketidak setujuan pada pemikiran sebelumnya, yaitu strukturalisme. Strukturalisme dibangun atas prinsip Saussure (Ferdinand de Saussure, 1857-1913) bahwa bahasa sebagai sebuah sistem tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Aspek diakronis bahasa, yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa, dilihat sebagai bagian yang kurang penting. . Dalam pemikiran post strukturalis, berpikir sementara menjadi hal yang utama.

Beberapa tokoh yang mendukung atau condong pemikirannya kepada Post-Strukturalisme diantaranya adalah seorang flusuf Prancis Jacques Derrida, pemikiran psikoanalisis Jacques Lacan, ahli teori kebudayaan Michael Foucault dan Jean-Francois Lyotard.

Jadi secara garis besarnya pemikiran post-strukturalisme adalah pemikiran yang tidak hanya terpaku kepada tulisan ataupun bahasa yang dituliskan akan tetapi selain tulisan, post-strukturalis juga tidak meninggalkan maksud dari sang penulis yang membuat sebuah tulisan. Lebih jelasnya selanjutnya saya akan mencoba menguraikan latar belakang tokoh post-strukturalisme serta pemikiran-pemikirannya.


Sumber rujukan:

http://hanyaudin.blogspot.com/2006/01/berkenalan-dengan-post-strukturalisme.html Kamis, 13-09-2007, 15:31
100out of 100 based on 199 ratings. 1 user reviews.
Rate:


Share 'Literature Theory' On:

Dont have comment yet for: "Literature Theory"

Post a Comment

free counters